Showing posts with label WISATA. Show all posts
Showing posts with label WISATA. Show all posts

Thursday, 15 September 2016

Unknown

Wisata Hemat di Komplek Pemda Kabupaten Bandung


          Berwisata hemat dan tidak perlu mengeluarkan banyak biaya merupakan pilihan setiap keluarga ketika waktu liburan tiba. Ada banyak alternatif tempat wisata dengan biaya minim yang bisa dipilih oleh keluarga anda. Wisata hemat adalah salah satu cara untuk menghemat biaya dan pengeluaran ketika kita ingin pergi liburan ditengah kegiatan kita yang super padat setiap harinya. Setidaknya kita mempunyai waktu selama satu/dua hari dalam seminggu untuk pergi berlibur dan pergi mencari tempat wisata baru. Namun tidak semua keluarga atau bahkan yang belum berkeluarga sekalipun bisa pergi berwisata sesuka hati. Terkadang ada banyak kendala yang sering menghalangi, salah satunya adalah terkendala masalah biaya. Ada baiknya kita berpikir bijak dalam menghemat keuangan kita ketika ingin berlibur. Salah satuya adalah mencari destinasi wisata yang tidak memerlukan biaya besar, namun tetap menyenangkan.

          Salah satu tempat yang bisa kita kunjungi adalah komplek Pemda kabupaten Bandung. Di dalam komplek pemda Kabupaten Bandung tersebut ada beberapa tempat yang cukup menarik yang bisa dikunjungi. Selain lapangan Upakarti sebagai sarana olahraga gratis, kita juga bisa melihat Taman Uncal dan Taman Anak. Taman uncal adalah sebuah taman yang didalamnya terdapat pepohonan, rumput hijau dan uncal (rusa). Untuk kita juga yang membawa buah hati, kita bisa mengajak buah hati kita untuk bermain di taman anak. Ada fasilitas untuk bermain anak.

          Sudah hampir lebih dari dua tahun taman ini berdiri. Dulu, semenjak kami masih berada di masa sekolah, tempat yang dijadikan sebagai taman uncal ini merupakan sebuah pekarangan biasa dan sering dipakai untuk bermain bola. Namun tempat yang dulunya biasa saja, sekarang perlahan berubah menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dikunjungi. Tentu hal tersebut berubah seiring perkembangan zaman dan keinginan masyarakat serta pemerintah Kabupaten Bandung juga untuk memberikan warna-warna berbeda di lingkungan Pemda kabupaten Bandung.

          Untuk bisa datang ke taman uncal dan taman anak ini kita tidak perlu merogoh isi dompet terlalu banyak. Cukup dengan niat dan persiapan kecil saja, kita sudah bisa menikmati wisata hemat di Kabupaten Bandung.

          Wisata hemat di Kabupaten Bandung ini memang diperuntukan untuk masyarakat Kabupaten Bandung. Banyak masyarakat yang mengapresiasi wisata hemat di komplek pemda Kabupaten Bandung ini. Mulai dari anak-anak sampai usia dewasa. Salah satunya adalah wanita asli asal Bandung ini, sebut saja nama lengkapnya adalah Elva Amelia Pratiwi (20) yang sering disapa Elva, seorang mahasiswi di universitas swasta kota Bandung dan Icha (20) yang bekerja di sebuah klinik di Soreang, yang kebetulan kami jumpai ketika kami berkunjung ke komplek pemda Kabupaten Bandung.

          Menurut elva, wisata hemat yang ada di komplek Pemda ini sangat positif, terutama untuk masyarakat yang ada di wilayah yang dekat dengan pemda Kabupaten Bandung. Taman uncal ini menjadi hiburan tersendiri untuk Elva dan Icha. Terutama untuk seorang Icha yang aslinya bukan berasal dari kota Bandung. “Kalau saya asli dari Sumedang, baru beberapa minggu tinggal di Soreang. Ya dikarenakan pekerjaan saya juga saya bisa tinggal di Soreang. Untuk masalah taman seperti ini, di Sumedang memang tidak ada dan baru disini saya menemukannya.” Ujar Icha yang masih asyik dengan kegiatan fotonya.

          Dilihat dari kondisi tamannya sendiri, menurut Elva tamannya sudah bagus tapi masih harus perlu dilakukan beberapa perbaikan. Mulai dari keindahan taman, infrastruktur dan terutama untuk masalah kebersihan selokan yang ada di sekitar taman tersebut agar bisa lebih diperhatikan lagi. Tapi untuk keseluruhan sangat luar biasa, karena taman ini ibarat miniatur kebun binatang, yang tentu jika kita ingin melihat hewan uncal tidak perlu jauh-jauh pergi ke kebun binatang. Cukup dengan datang langsung ke komplek pemda Kabupaten Bandung saja. Dengan biaya murah dan tentu hemat untuk isi dompet kita.
Read More

Tuesday, 30 August 2016

Ganteng123

Cibuni Trip Part 2 From Bandung to Bandung



          Keindahan alam ciptaan sang Khalik memang tidak ada duanya. Banyak keindahan dan panorama alam yang sangat luar biasa yang bisa menyejukan mata dan hati kita. Dibelahan dunia manapun panorama itu selalu terbentang menakjubkan dan negara Indonesia adalah salah satu pemilik panorama-panorama indah itu. Dari sekian banyak tempat indah yang ada di dunia, Indonesia menyumbangkan sebagian besar peranan penting dalam sektor wisata untuk panorama alamnya yang luar biasa.

Tidak perlu jauh-jauh kita mencari, karena disekitar kita pun banyak tempat luar biasa yang dipandang biasa-biasa saja. Seperti yang di tulis di Cibuni part 1, yang memang tidak banyak orang tahu.

Seperti yang ditulis sebelumnya, kami melalui perjalanan dari kota Bandung (Katapang) menyusuri tempat wisata Ciwidey dan sampailah di perkebunan teh Cibuni. Perjalanan Cibuni trip kami lanjutkan kembali setelah persinggahan pertama kami di wisata pantai Jayanti. Rencana perjalanan kami selanjutnya yaitu akan langsung kembali ke kota Bandung menyusuri pantai Selatan menuju Ranca Buaya dan Cisewu, Kabupaten Garut. Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, kami disuguhkan kembali dengan panorama alam yang luar biasa. Jika sebelumnya kami disuguhkan dengan pemandangan asli pegunungan, untuk kali ini perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan pesisir pantai yang menakjubkan. Kami benar-benar bisa merasakan desiran ombak yang beradu dengan karang dipesisir pantai, begitu tenang dan menyejukan mata serta telinga kami.

Untuk menuju pantai Ranca Buaya, perjalanan dari wisata pantai Jayanti memerlukan waktu satu jam perjalanan. Selama satu jam perjalanan itu, kami tak henti-hentinya berhenti di beberapa titik perjalanan untuk menikmati keindahan pesisir pantai. Ada beberapa momen dimana kami merasa nyaman dengan suasana pesisir selatan pulau Jawa ini. Salah satunya adalah kondisi jalannya yang mulus dan sepi kendaraan, sekalipun itu adalah hari minggu. Meskipun ada beberapa kendaraan juga yang melintas, tapi untuk ketenangan tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kota Bandung tercinta, yang mulai identik dengan kepadatan dan kemacetan.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit. Kami sampai diperbatasan kabupaten Cianjur dan Kabupaten Garut yang dipisahkan oleh sungai dan jembatan Cikali. Dari jembatan itulah perjalanan kami dimulai kembali, tepatnya dari kabupaten Garut untuk menuju Ranca Buaya dan Cisewu.

Suasana panas pesisir pantai di Kabupaten Garut ini masih terasa. Beberapa kali kami melihat pemandangan pantai yang luar biasa. Jika dilihat dari kondisi jalan, sedikit berbeda dibandingkan dengan jalanan di kabupaten Cianjur. Jalanan di kabupaten Garut masih berupa aspal dan ada jalanan yang berlubang di beberapa titik.

          Tanpa terasa satu jam perjalanan kami lalui, akhirnya sampailah kami di gerbang wisata pantai Ranca Buaya. Namun kami tidak memutuskan masuk ke pantai Ranca Buaya dikarenakan waktu tempuh perjalanan yang terlalu sempit dan waktu yang semakin sore. Akhirnya kami memutuskan untuk terus menancap gas motor kami menuju ke Cisewu. Kami masih ingat dengan jam ketika tiba di gerbang pantai Ranca Buaya, yaitu sekitar pukul 14.00 WIB. Perjalanan pun kami teruskan dengan tujuan agar bisa cepat-ceat sampai di Bandung. Setelah melewati wisata pantai Ranca Buaya, suasana perjalanan pun kembali berubah. Kali ini suasana pegunungan mulai terasa menghampiri kami dan suasana pesisir pantai pun mulai tenggelam seiring perjalanan kami meninggalkan wilayah pesisir Ranca Buaya. Sebagaimana seperti perjalanan awal kami dari Cibuni Kabupaten Bandung, kondisi alam Cisewu pun tidak jauh berbeda, penuh dengan pepohonan dan pegunungan serta kebun-kebun milik masyarakat yang sejuk dan hijau.

          Hampir kurang lebih 3 jam perjalanan kami melalui daerah Cisewu, Kabupaten Garut. Akhirnya kami pun sampai di Kabupaten Bandung, tepatnya di daerah Pangalengan. Dalam perjalanan dari Cisewu dan Talegong kami tidak sempat mengambil gambar panorama alam disana, tepatnya keinginan kami untuk mengambil gambar di wilayah Talegong, Cisewu. Yang mungkin sudah terkenal dengan keindahan alam serta jalannya yang menakjubkan. Hal itu dikarenakan ketika perjalanan mencapai Talegong, perjalanan kami harus terhambat karena hujan lebat turun dengan kabut yang lumayan tebal. Jarak pandang pun terbatas, sekitar 100-200 meter saja. Akhirnya sesi pemotretan kami tunda di lain kesempatan.

          Tapi puji syukur, karena sekitar pukul 17.30 kami sudah sampai kembali di kota Bandung (Katapang). Pengalaman satu hari yang sungguh luar biasa dan kami pun tidak akan melupakan hari trip dadakan kami itu. Terutama dari setiap keindahan perjalanan dan panorama alamnya yang sangat luar biasa. Keindahan dan anugerah dari sang Khalik untuk bisa kita nikmati. Kami bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bisa melihat keagungan-Nya. Intinya keindahan alam itu gratis, kita sebagai manusia hanya bertugas untuk menjaga dan merawatnya saja. Tidak merusak, apalagi menghilangkannya. Pikirkan juga untuk anak cucu kita nanti, karena dari lubuk hati meski mereka belum ada di dunia ini, mereka pasti ingin merasakan dan menikmatinya juga. Sebagaimana kenikmatan alam yang kita dapatkan sekarang.

Salam wikuba trip, from Bandung to Bandung.


Read More

Monday, 29 August 2016

Ganteng123

Cibuni Trip Part 1 From Bandung to Bandung




          Cibuni? Dimananakah Cibuni berada? Nama Cibuni yang mungkin terlintas dalam benak kita adalah tentang tempat wisata kawahnya yang luar biasa. Memang tidak salah juga, karena Cibuni sampai saat ini begitu terkenal dengan wisata kawahnya, yaitu Kawah Rengganis yang berada di kaki gunung Patuha. Namun di dalam bacaan kami ini, kami tidak akan membahas tentang kawahnya, tetapi akan membahas perjalanan Tim Wikuba menyusuri daerah Selatan Kota Bandung atau tepatnya daerah selatan pulau Jawa selama satu hari. Yang di mulai dari Kota Bandung (Katapang) menyusuri pantai Selatan dengan rute Cianjur (Naringgul), Cidaun, Garut, Ranca Buaya, Cisewu, Pangalengan dan sampai kembali di kota Bandung (Katapang). Nama Cibuni terlintas dalam pemikiran kami untuk dijadikan judul utama dalam artikel ini. Kami terpesona dengan keindahan alamnya. Terutama karena keindahan perkebunan teh dan hutan-hutannya. Selain itu kami juga kagum dengan kondisi jalan serta tekstur pegunungannya yang tentu sayang sekali jika dilewatkan.

          Seperti yang kita ketahui, daerah Cibuni terbentang dengan perkebunan tehnya yang luas, yang berada di selatan kota Bandung. Tepatnya masih di kawasan wisata Ciwidey, Kabupaten Bandung. Nama Cibuni trip kami adopsi dari setiap perjalanan kami yang melewati beberapa tempat wisata di daerah Ciwidey sampai kepada perbatasan Cibuni dan Naringgul (Cianjur). Khususnya adalah karena keindahan alam dari Cibuni itu sendiri.

          Dalam perjalanan ini, kami mengambil rute perjalanan dimulai dari kota Bandung (Katapang) menuju ke jalur selatan wisata Ciwidey. Dalam perjalanan kami melewati banyak destinasi wisata yng berada di kota Ciwidey. Dimulai dari Wisata Kawah Putih, Ciwidey Valley Resort, pemandian air panas Cimanggu, Kampung Cai Rancaupas, pemandian air panas Ranca Walini, Situ Patengan dan masih banyak yang lainnya. Hingga sampailah kami di perkebunan teh Cibuni. 

Awal sebenarnya, tujuan kami datang ke Cibuni adalah untuk membuat tulisan tentang Cibuni dan keindahan alamnya saja. Trip kami menyusuri pantai selatan memang terbilang dadakan dan tanpa rencana, hingga tercetuslah nama Cibuni trip. Karena sebelumnya memang tidak ada rencana, mengingat tim kami yang meliput dan datang ke Cibuni hanya dua orang saja. Namun rasa kagum kami terhadap keindahan alam di sekitar Cibuni seakan menghipnotis kami untuk tetap meneruskan perjalanan menyusuri perkebunan teh dan hutannya serta jalanannya yang sepi dan tenang itu. Hingga tanpa terasa sampailah kami di perbatasan kabupaten Bandung, tepatnya di Kecamatan Naringgul, kabupaten Cianjur. Ini pun menjadi pengalaman kami karena ini adalah kali pertama kami memasuki Naringgul. Kami sempat berbincang dengan salah satu pemilik warung yang berada di sana. Awalnya kami hendak pulang kembali menuju Cibuni, namun kami penasaran dengan perjalanan menuju pantai-pantai yang ada di selatan ini dan penasaran juga dengan cerita-cerita teman tentang perjalanan touring mereka menyusuri kawasan ini, salah satunya adalah menuju pantai Jayanti dan Ranca Buaya. “Perjalanan menuju pantai Jayanti dari sini kurang lebih sekitar 3 jam.” Ucap pemilik warung tersebut ketika kami tanyai mengenai lamanya waktu yang akan kita tempuh menuju pantai Jayanti tersebut.

*Perjalanan Cibuni menuju Naringgul

Perjalanan untuk kali pertama ini sangat melelahkan, karena kami harus melewati jalanan yang terjal dengan turunan dan tanjakan yang sangat tajam. Serta banyak kelokan yang kami pikir sangatlah berbahaya dan rawan jika dilalui oleh kendaraan, apalagi kendaraan roda empat. Tentu untuk kalian yang sudah terbiasa mungkin akan baik-baik saja melewat rute yang seperti itu dan disini kami berusaha untuk membiasakannya juga. Dari kondisi jalan yang kami lewati, untuk kami sendiri kondisi jalan masih sangat normal, meskipun ada jalanan yang berlubang dibeberapa titik, namun untuk keseluruhan tidak terlalu buruk. Namun ada pamandangan menarik yang kami dapati ketika melewati beberapa titik jalan di Naringgul. Mungkin untuk kalian yang melewati jalur ini akan mengalami hal yang sama juga. Kami sempat diberhentikan oleh beberapa pemuda yang sedang memperbaiki jalanan yang rusak. Tidak terpikir sebelumnya jika kami akan diberhentikan begitu saja. Awalnya salah satu pemuda yang menghentikan kami itu berdalih untuk meminta sumbangan untuk memperbaiki jalanan rusak tersebut. Tanpa pikir panjang kami pun memberi mereka uang yang memang tidak seberapa. Namun yang kami sayangkan adalah kondisi penghentian kami yang terkesan sedikit memaksa. Ada sekitar empat kali kami mengalami kejadian seperti itu sepanjang perjalanan kami dari Naringgul. Kalaupun di tempat lain ada, mereka hanya bermodalkan kaleng atau kardus saja untuk meminta sumbangan ala kadarnya. Dalam artian seikhlasnya saja, mau memberi ataupun tidak, itu bukan jadi masalah. Karena intinya adalah keihklasan mereka untuk membantu setiap orang termasuk pendatang untuk tetap nyaman melewati wilayah mereka. Kami menyayangkan juga kalau seandainya hal tersebut dibiarkan dan dijadikan sebagai sebuah profesi, terutama oleh para pemuda penerus bangsa yang tenaganya sangat dibutuhkan lebih dari itu. Harapan terbesar kami tentulah kepada para pemerintah yang berkuasa untuk lebih memperhatikan keadaan masyarakatnya,  lebih tepatnya aksi blusukan harus lebih ditingkatkan untuk mengetahui kondisi masyarakat sebenarnya. Semoga.

*Keindahan Panorama Kawasan Naringgul

Jika kita pernah melintasi kawasan ini, tentu kita mengetahui seberapa indah panorama alamnya. Di sini kita disuguhkan juga oleh keindahan alam pegunungan dan kondisi masyarakatnya yang dominan berprofesi sebagai petani. Banyak lahan sawah yang ditanami padi dan ladang yang ditanami berbagai macam sayuran yang menarik untuk kita lihat. Kami sangat takjub juga dengan panorama air terjun yang bisa kita lihat di sepanjang perjalanan dari kawasan Naringgul ini yang tentu akan menghipnotis mata kita.

*Tiba di Cidaun Menuju ke Tempat Wisata Pantai Jayanti

Setelah melewati jalanan yang terjal, akhirnya kami bisa menghirup udara segar dengan jalanan yang datar menuju Cidaun. Namun udara panas sudah mulai terasa ketika memasuki kawasan Cidaun ini. Bibir pantai selatan pun sudah bisa dilihat oleh mata dan tanpa terasa waktu 3 jam pun berhasil kami lalui. Perjalanan kami sangat tidak sia-sia. Rasa panas dan lelah karena belum makan pun terobati dengan keindahan pantai Jayanti yang menakjubkan. Selama hampir satu jam kami berada di pantai Jayanti untuk menikmati udara laut di siang hari. Kami tiba di wisata pantai Jayanti sekitar pukul 13.00 dan melanjutkan kembali perjalanan kami pada pukul 14.00 untuk menuju ke Ranca Buaya, Garut.

Sekedar info saja, untuk masuk ke pantai Jayanti kita dikenakan biaya tiket masuk. Untuk satu motor biaya masuknya sebesar Rp 7.000,00 dan untuk kendaraan roda empat sebesar Rp 20.000. Murah bukan?  Dimana lagi kita bisa menikmati keindahan pantai alami nan indah dengan biaya murah.  kami perhatikan kondisi dari pantai Jayanti ini masih sangat terawatt dan terbilang bersih. Tidak ada salahnya juga dari jauh-jauh hari untuk mempersiapkan liburan kita menuju  ke pantai Jayanti.

          Perjalanan kami belum terhenti sampai di situ saja. Kami masih akan melanjutkan perjalanan untuk pulang kembali menuju Bandung. Tentunya keindahan alam pemberian sang Khalik ini membuat kami merenungkan ciptaan-Nya. Betapa maha pengasih dan penyayangnya Dia terhadap kita sebagai manusia yang tidak mempunyai kuasa apapun. Sungguh kita akan menundukan kepala dan berdoa, semoga masih banyak keindahan-Nya yang bisa kami lihat, tidak hanya di sini. Tapi bahkan  bisa mencapai ke pelosok negeri dan bahkan seluruh penjuru dunia. Untuk memberitahukan bahwa semua ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia. Amin.

Baca Juga : Cibuni Trip Part 2 From Bandung to Bandung



Read More

Friday, 5 August 2016

Wikuba Blog

Wisata Ciwidey ke Taman Love

By     No comments:


          Love selalu identik dengan ungkapan seseorang tentang cinta. Tapi bagaimana jika love tersebut berbentuk taman? Tentu jawabannya ada dan banyak juga. Seperti Taman love yang satu ini. Begitulah orang-orang menyebutnya. Taman love adalah sebuah taman yang didalamnya terdapat macam-macam bunga. Bentuknya memang terlihat seperti bentuk hati atau disebut dengan love. Taman love masih berlokasi di daerah Soreang mengarah ke jalur Ciwidey. Lebih tepatnya di Kampung Legok Kaso Rt 01/08 Desa Karamat Mulya Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Sejak awal dibuka, taman ini sudah menarik banyak pengunjung. Mulai dari kalangan remaja hingga kalangan dewasa.

Taman love baru berdiri sekitar satu tahun. Dengan luas mencapai tiga hektar. Dilihat dari sejarah berdirinya, Taman Love ternyata bukan nama sebenarnya. Taman love hanyalah nama yang diberikan oleh para pengunjung. Sedangkan nama asli dari pemiliknya adalah De Dago’s dan bukan taman love. Namun karena sudah terkenal dengan sebutan taman love, akhirnya dipakailah nama Taman Love untuk tempat tersebut. Nama De Dago’s sendiri diberikan karena panorama di tempat ini sangat mirip dengan pemandangan di daerah Dago, kota Bandung. Konsep awal De Dago’s sebetulnya lebih mengutamakan sajian  kuliner dan tempat makan (cafe).

             Di Taman Love banyak terdapat pemandangan yang indah. Perjalanan menuju area Taman Love pun masih terbilang alami, masih dihiasi pohon dan rumput-rumput yang hijau. Untuk akses jalan sudah sangat memadai. Jaraknya 1,5 km dari jalan utama jalur Ciwidey-Soreang. Di hari biasa Taman Love buka mulai pukul 09.00-19.00, sedangkan khusus di hari libur (weekend) Taman Love buka mulai pukul 09.00-21.00. Namun menurut Pak Agung (36 tahun) selaku penanggung jawab De Dago’s (Taman Love) mengatakan, jam tutup bisa saja berubah tergantung dari kondisi pengunjung juga. Pengunjung yang datang akan dikenakan tarif tiket sebesar Rp 4.000,00. Rinciannya adalah Rp 2.000,00 untuk tiket masuk dan Rp 2.000 untuk tiket parkir. Murah bukan? Tentu sangat cocok untuk menghemat isi dompet kamu.

               Di lihat dari jumlah pengunjung, dari hari ke hari pengunjung mengalami peningkatan yang signifikan. Pak Agung mengungkapkan pengunjung di hari-hari biasa mencapai 300-500 orang dan di hari libur pengunjung bisa mencapai 1000-1500 orang. Meskipun dalam sarana dan prasarana belum sepenuhnya lengkap (baru sekitar 25%), namun sudah banyak pengunjung yang antusias untuk bisa menikmati pemandangan alam yang ada di De Dago’s atau Taman Love. Pengunjung yang datang masih di dominasi oleh masyarakat yang berasal dari daerah Bandung dan sekitarnya. “Meskipun pihak De Dago’s (Taman Love) belum melakukan promosi, namun sudah banyak yang datang kesini. Kebanyakan pengunjung yang datang ke Taman love awalnya mengetahui dari media sosial dan dari teman-temannya yang pernah datang ke sini.” Ujar Pak Agung selaku penanggung jawab De Dago’s (Taman Love).

             Seperti kata Ridwan dan Habib (pelajar) yang berasal dari Soreang, Cipedung. Mengatakan alasan datang ke De Dago’s atau Taman Love karena tertarik dengan pemandangan alam dan udara segarnya. Begitupun dengan Yulia (19 tahun) yang berasal dari Banjaran. Yulia datang bersama teman-temannya. Dan ini adalah kali kedua Yulia mengunjungi Taman Love. Alasan Yulia datang ke De Dago’s (Taman Love) adalah karena pemandangan alam dan kondisi tamannya yang nyaman untuk berkumpul bersama teman-teman. “Saya sangat menikmati pemandangan alamnya dan saya juga suka dengan replika pesawat yang ada di Taman Love, dulu pas pertama saya datang kesini. Replika pesawat itu masih belum jadi dan masih di rangkai, tapi sekarang saya sudah bisa menikmati replika pesawat yang utuh dan itu sangat menyenangkan.” Ujar wanita berkerudung ini mengungkapkan alasannya datang ke De Dago’s (Taman Love).

  Mengenai replika pesawat yang ada di De Dago’s (Taman Love), pihak De Dago’s (Taman Love) berencana akan membuat replika pesawat itu menjadi sebuah kafe. Didalamnya akan ada fasilitas kursi dan karpet. Serta fasilitas lainnya jika ada tambahan. Jika diperhatikan, replika pesawat tersebut cukup besar juga. Memiliki panjang (dari ekor menuju hidung pesawat) yaitu 18 meter dan bentang sayap mencapai 18 meter. Replika pesawat ini menjadi daya tarik tersendiri untuk para pengunjung.

Pak Agung menjelaskan kembali bahwa kedepannya pihak De Dago’s (Taman Love) akan menambah beberapa wahana dengan konsep back to nature. “Insya Allah untuk kedepannya sambil berjalan, di Taman Love ini kita akan menambah beberapa wahana. Diantaranya wahana taman bermain, mini zoo, kolam renang dan tentu fasilitas-fasilitas yang lainnya juga. Selain itu kami juga akan memperbaharui tempat untuk menu makan dan jajanan, karena yang ada sekarang masih terlihat apa adanya. Tentu untuk kedepannya kami akan membuat De Dago’s atau Taman Love nyaman untuk pengunjung. Ya, tapi karena sekarang masih seadanya, saya harap pengunjung bisa memaklumi.” Ungkap Pak Agung di sela-sela terakhir obrolan dengan tim Wikuba.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.
Read More

Tuesday, 2 August 2016

Wikuba Blog

Wisata Ciwidey Murah di Puncak Batu Bedil

By     No comments:


          Batu bedil adalah sebuah bukit yang ada di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Terletak di Kampung Cimonce Rt 02 Rw 11 Kelurahan Sukajadi Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Lokasinya sangat mudah di jangkau. Karena sudah ada akses jalan menuju bukit tersebut. Jarak menuju Batu Dedil sekitar 4 km dari jalan utama Ciwidey dan 5 km jaraknya dari pusat kota Soreang.
            
             Batu bedil sebenarnya bukan nama bukit, tapi sebuah nama yang diperuntukan untuk batu yang identik dengan pistol/senapan. Dalam bahasa sunda bedil itu berarti pistol/senapan. Jadi batu bedil adalah batu yang mirip dengan pistol/senapan. Ukuran batunya tidak terlalu besar, panjangnya tidak lebih dari 3 meter. Batu tersebut berada di puncak bukit di bawah sebuah pohon besar. Dikelilingi oleh semak belukar yang melingkar. Untuk sampai ke atas bukit batu bedil memang tidak mudah. Dari jalan umum kita harus menaiki bukit melewati perkebunan warga. Jaraknya ±500 meter dari jalan umum kampung Cimonce.

            Suasana bukit tersebut masih terbilang alami. Banyak perkebunan warga dan pohon-pohon yang tumbuh alami. Kebun warga disana bisa menjadi tontonan dan pemandangan menarik untuk dilihat. Begitupun kondisi di sekitar bukit batu bedil. Jika sudah sampai diatas bukit, kita bisa melihat pemandangan kota Bandung dan kota Ciwidey. Akan lebih indah lagi jika kondisinya malam hari. Selain suasana ramai lampu kota, jika langit malam cerah kita disuguhkan oleh keindahan langit dengan beribu-ribu bintang diatasnya.

                    Tim Wikuba sempat berbincang dengan beberapa warga setempat, termasuk ketua RW kampung Cimonce. Sebut saja namanya Bapak Dayat (56 tahun). Selain sebagai ketua RW, Pak Dayat juga berprofesi sebagai seorang petani. Pak Dayat menuturkan, bahwa batu bedil ini memang sudah ada sejak lama. Sejak dulu batu bedil memang sudah terkenal sebagai tempat yang memiliki daya tarik tersendiri. Konon, dulu tempat ini dijadikan sebagai tempat bersemedi untuk mendapatkan ilmu. Pernah juga dijadikan tempat ziarah. Karena dipercaya ada makam Kanjeng Dalem (semacam kiai, ulama, wali dan sebagainya). Namun karena perkembangan zaman juga, kegiatan tersebut kini perlahan mulai berkurang. Tapi masih ada beberapa orang yang percaya. Bahkan beberapa bulan ke belakang sempat ada yang bersemedi di bukit batu bedil tersebut. Namun bila diperhatikan kondisi batu bedil sekarang sudah kurang terawat. Batunya sudah berlumut dan dipenuhi semak.
             
             Pak Dayat menuturkan, meskipun kondisi Batu Bedil kurang terawat tapi masih banyak masyarakat yang datang. Mulai dari pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Sering juga dijadikan tempat untuk berkemah atau hanya sekedar untuk melihat pemandangan alamnya saja. Masyarakatnya pun sangat ramah. Banyak anak-anak yang bermain dan bersekolah. Meski anak-anak ini harus naik dan menuruni jalan, mereka tetap terlihat semangat untuk bersekolah.
           
            Menurut pantauan tim Wikuba, bukit tersebut memang cocok untuk dikunjungi. Karena pemandangan alamnya juga yang sangat menakjubkan. Selain itu untuk akses jalan pun sangat memadai. Sebagian jalan sudah di beton dan sebagian masih dalam proses perbaikan. Tapi untuk keseluruhan akses dan fasilitas sangat mendukung. Batu bedil memang belum djadikan sebagai tempat wisata untuk umum. Tapi jika kamu penasaran kamu bisa datang langsung. Terutama untuk kamu yang ingin berkemah dan menikmati pemandangan alamnya. Kamu bisa bertanya kepada kami disini. Agar kami bisa merekomendasikan kamu untuk mempunyai liburan yang menyenangkan dengan biaya murah.

Terimakasih atas kunjungannya, semoga bermanfaat.   

Read More
Wikuba Blog

Mengenang Masa Kecil di Tempat Wisata Ciwidey

By     No comments:
      

                Ciwidey selalu identik dengan tempat wisata. Banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Mulai dari wisata kecil, hingga wisata yang besar. Salah satunya adalah jembatan kereta api Rancagoong. Bila diperhatikan, jembatan tersebut memang bukan untuk tempat wisata. Hanya sebagai jembatan kereta api dan jalan umum biasa. Jembatan Rancagoong merupakan salah satu jembatan kereta api yang ada di Ciwidey dan salah satu jembatan kereta terpanjang di kota Bandung. Memiliki panjang lebih dari 120 meter dan tinggi lebih dari 40 meter. Terletak di Kampung Gombong Rt 01/13 Desa Sukajadi Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung. Jembatan tersebut terlihat kokoh dan sudah digunakan sejak lama oleh masyarakat sebagai penghubung antara dua desa berbeda, yaitu kampung Gombong Desa Sukajadi dan kampung Rancagoong Desa Cikoneng.
             
                Jembatan Rancagoong merupakan jembatan kereta api tertua peninggalan Kolonial Belanda yang dibangun sekitar tahun 1923. Banyak masyarakat menggunakan jembatan ini sebagai penghubung roda ekonomi, terutama ketika pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa. Jalan kereta api ini merupakan akses untuk angkut barang dan manusia. Namun itu dulu, beberapa puluh tahun yang lalu. Sekarang, jalur kereta api tersebut sudah tidak difungsikan lagi. Beberapa tempat dan sarana kereta api sudah beralih fungsi menjadi permukiman. Namun ada wacana bahwa tahun 2020 kereta api yang menghubungkan kota Bandung dan Ciwidey ini akan difungsikan kembali.

             Sampai saat ini kondisi jembatan tersebut masih terlihat asli. Mulai dari ornamen dan struktur bangunannya. Hanya struktur besinya saja yang sudah terlihat berkarat. Namun dari keseluruhan, jembatan kereta ini masih kuat bertahan. Jika dilihat dari atas, kamu akan melihat pemandangan berupa sawah dan sungai.
         
         Menurut Bapak Adi (65 tahun), warga sukatani Desa Cikoneng, jembatan ini sudah menjadi primadona bagi warga sekitar. Sejak dulu, jembatan ini sudah dijadikan sebagai tempat hiburan gratis bagi warga. Bahkan jembatan ini pernah dijadikan sebagai lokasi syuting film bertema kemerdekaan. Ada juga masyarakat yang menggunakan jembatan ini untuk foto pernikahan atau hanya sekedar foto selfie untuk pribadi.

         Bahkan kabar terbaru, jembatan ini sering dijadikan aktivitas oleh para pecinta alam, yaitu aktivitas panjat tebing. Banyak masyarakat mulai dari mahasiswa, siswa sekolah, masyarakat umum, serta tentara sering menggunakan jembatan ini untuk berlatih panjat tebing. Akhir-akhir ini kegiatan tersebut perlahan menurun dikarenakan sering terjadi insiden kecelakaan bahkan sampai menelan korban jiwa. Namun hal itu tidak menurunkan niat para pecinta alam untuk tetap berlatih panjat tebing di jembatan Rancagoong ini. Meskipun demikian, bagi para pecinta alam yang ingin berlatih panjat tebing harus memiliki ijin resmi dari aparat desa setempat. Kalau tidak, jangan harap bisa berlatih panjat tebing di jembatan Rancagoong ini. 

         Untuk anak-anak di wilayah pedesaan yang lahir di tahun 90-an, mengunjungi tempat ini menjadi kenangan tersendiri. Teringat ketika bulan suci ramadhan tiba, jembatan ini sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak dari berbagai kampung. Untuk sekedar menghabiskan waktu sore atau istilah sundanya adalah ngabuburit. Mereka berbaur menjadi satu keramaian yang luar biasa. Dulu teknologi belum semaju sekarang, tidak ada selfie atau update status di media sosial. Hanya interaksi alami yang terjadi antara satu orang dengan yang lainnya. Istilahnya, jembatan kereta api ini hanya digunakan untuk temu kangen saja. Baik dengan teman atau kenalan spesial dari kampung sebelah.
            
            Hal itu pasti membuat kita terharu dan teringat kembali akan masa-masa dimana kebersamaan masih terjalin kuat. Tawa dan canda, suka dan duka.. Semua bercampur menjadi satu kekuatan untuk membuat jalinan kebersamaan ini tetap utuh. Tidak saling menjatuhkan tapi saling membangkitkan. Semoga hal itu masih tetap ada dan terus bertahan selamanya.


Semoga membantu dan bermanfaat.
Read More

Saturday, 30 July 2016

Wikuba Blog

Tempat Wisata Gratis Perkebunan Teh Rancabali Ciwidey

By     No comments:



                     Rancabali adalah salah satu perkebunan teh terbesar di Jawa Barat yang Berada dibawah naungan PT Perkebunan Nusantara VIII. Berlokasi di daerah Ciwidey Kabupaten Bandung. Lokasi perkebunan ini sangat mudah dijangkau. Dikarenakan akses jalan menuju kesana sudah memadai. Kamu bisa memakai kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Jika kamu berasal dari kota Bandung, tentu akan sangat mudah menemukan jalan menuju wisata gratis tersebut. Tapi jika kamu baru pertama kali datang ke Bandung, akses jalannya juga mudah kok. Karena tekhnologi sekarang akan membantu kamu dan tentu melalui informasi blog ini juga.
  1. Akses Jalan Dengan Menggunakan Kendaraan Umum
Jika kamu berasal dari luar Bandung dan berkunjung ke Bandung sebagai backpacker. Tentu sebelum menuju wisata gratis perkebunan teh Rancabali, kamu pasti akan transit terlebih dahulu di terminal Bandung atau biasa disebut Terminal Leuwi Panjang. Di sana kamu pasti menemukan banyak kendaraan umum menuju ke daerah ciwidey, diantaranya:
-          Angkutan Kota (angkot) jurusan Leuwi Panjang yang berwarna hijau. Biasanya sering ada diperempatan lampu lalu lintas (bypass) Soekarna Hatta menuju arah soreang/Kopo. Untuk ongkos jika memakai angkot ini sekitar Rp 7.000,00 dan tidak lebih dari Rp 10.000,00 (update terbaru Juli 2016). Namun perjalanan angkot ini hanya sampai di Kota Soreang saja (kota pertama sebelum kota Ciwidey). Setelah itu kamu mesti naik kendaraan umum lagi untuk menuju Ciwidey.
-          Angkutan umum mobil Ciwidey. Untuk akses mudah, murah dan cepat, kami menyarankan lebih baik menggunakan kendaraan umum jenis ini saja yang langsung transit di Terminal Ciwidey. Untuk ongkos dari Leuwi Panjang menuju Ciwidey sekitar Rp 12.000,00 (update terbaru Juli 2016). Tentu hal ini akan mengirit dompet kamu juga. Kamu tidak perlu turun naik kendaraan umum (terkecuali jika kamu ingin berhenti di tempat-tempat tertentu). Tapi perjalanan kamu belum berhenti disitu saja. Setelah kamu transit di terminal Ciwidey, kamu harus naik kendaraan umum lagi menuju ke situ Patenggang.
                          
2                 2.  Akses Jalan Menggunakan Kendaraan Pribadi
Untuk akses yang satu ini memang terbilang sangat mudah, karena kita tidak harus turun naik kendaraan. Hanya dengan modal biaya yang cukup, kamu sudah bisa menuju tempat wisata gratis di Rancabali. Untuk akses jalan, kamu cukup mengikuti jalur ke arah Soreang/Kopo saja. Atau untuk lebih mudahnya, kamu bisa memakai GPS.

            Nah, itu adalah lokasi dan akses jalan jika kamu ingin menuju wisata gratis di perkebunan teh             Rancabali.

                 Seperti yang kita ketahui bahwa Rancabali terkenal dengan keindahan alamnya yang natural. Hal itu bisa dilihat dari keadaan alamnya yang masih bernuansa hutan. Disepanjang jalan, kita akan menemukan keadaan bernuansa alami. Seperti pesawahan, hutan, dan perkebunan. Itulah yang kita sebut sebagai wisata gratis. Karena disana kita disuguhkan oleh berbagai macam keindahan alam. Cukup kita diam dipinggir jalan, kita sudah bisa menikmati kesegaran alami dari perkebunan teh dan suasana hutannya.
           
                  Menurut salah satu pengunjung (sebut saja namanya Rida berasal dari kota Bandung), menyebutkan bahwa untuk mencari hiburan dan liburan murah kita tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Cukup datang dan melihat pemandangan gratis di Rancabali. Hal itu sudah sangat membantu kita dalam mencari liburan murah dan nyaman.
            
                       Nah bagaimana dengan kamu? Siapkah untuk berkunjung ke tempat wisata gratis di Rancabali? Kalau sudah siap tunggu apalagi, tinggal persiapkan segala sesuatunya dan berangkat sekarang juga. Semoga membantu.

Terimakasih atas kunjungannya.
Read More